Eksklusi Sosial Terhadap Aseksual di Dunia Yang Terseksualisasi

 

Nama               : Eka Yunita Herawati

NIM                : 185120107111006

Kelas               : A-6 Sosiologi

 

Eksklusi Sosial Terhadap Aseksual di Dunia Yang Terseksualisasi

Aseksual merupakan salah satu orientasi seksual yang mungkin paling banyak belum diketahui oleh masyarakat luas dibandingkan orientasi seksual lainnya seperti gay, lesbian, dan lain sebagainya. Aseksual merupakan istilah yang digunakan terhadap mereka yang merasakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali ketertarikan seksual, ketertarikan seksual dalam hal ini ialah ketertarikan pada orang  secara spesifik dan merasa tertarik untuk melakukan seks dengan mereka dan aseksual bukan disebabkan oleh gangguan kesehatan, trauma, atau bahkan faktor-faktor lainnya seperti halnya merasa tidak punya harapan dalam berkencan, kurang menarik secara fisik dan lain sebagainya (Ferguson, 2019). Meski beberapa aseksual merasa bahwasanya latar belakang seseorang menjadi aseksual merupakan hal yang tidak penting selama mereka tidak merasakan ketertarikan seksual dan aseksual bukan pilihan yang mereka buat sendiri maka apa yang mereka rasakan itu valid dan mereka bebas untuk menggunakan label aseksual. Hal tersebut dilakukan  untuk menciptakan ruang yang inklusif bagi aseksual dan wujud validasi dari perasaan mereka. Beberapa beranggapan bahwasanya aseksual memanglah orang yang tidak merasakan ketertarikan seksual bahkan sejak mereka lahir dan memilih untuk tidak melakukan seks dikarenakan kesadaran tersebut, namun tidak berarti semua aseksual tidak pernah melakukan hubungan seks sebelumnya dikarenakan ada beberapa kasus ataupun pengalaman aseksual dimana sebelumnya mereka sudah pernah melakukan seks atau bahkan memiliki anak baru setelahnya menyadari aseksualitas mereka.

Menjadi aseksual tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan partner dikarenakan banyak diantara aseksual yang masih memiliki ketertarikan secara romantik dengan orang lain,  memiliki partner serta membina hubungan tanpa adanya ketertarikan seksual dengan mencari partner yang sesuai dengan tipe aseksual yang mereka miliki. Beberapa tipe aseksual diantaranya ialah demiromantik, aromantik, aegoseksual, gray-aseksual. Demiromantik aseksual yakni asekual yang merasakan ketertarikan secara romantik ataupun seksual (pada beberapa aseksual) setelah mendapatkan ikatan emosional dengan orang lain, selain itu adapun aseksual aromantik yakni aseksual yang tidak merasakan ketertarikan seksual ataupun romantik dengan semua gender, sedangkan aseksual romantik yakni aseksual yang masih merasakan ketertarikan romantik dengan orang lain tanpa ketertarikan seksual, gray-aseksual ialah aseksual yang berada ditengah-tengah dan merasa masih belum yakin apakah mereka merasa mengalami ketertarikan seksual maupun tidak (AVEN, 2001). Selain itu juga ada aegoseksual yakni aseksual yang menikmati seksual fantasi, menonton porno, dan konten seksual ataupun masturbasi tetapi merasa sedikit hingga tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan seks kepada orang lain di kehidupan nyata (wikia.org, 2020).

Selain itu juga ketertarikan aseksual terbagi menjadi ketertarikan secara romantik dan ketertarikan estetik yakni ketertarikan atas penampilan. Orientasi romantik pada aseksual dapat berupa heteroromantik (menyukai lawan jenis), homoromantik (menyukai sesama jenis), biromantik (dapat menyukai dua jenis gender laki-laki maupun perempuan), panromantik (menyukai semua jenis gender), aromantik (tidak memiliki ketertarikan romantik dengan semua orang atau semua gender), romantik (memiliki ketertarikan secara romantis terhadap orang lain). Pengelompokkan lainnya ialah respon ataupun kecenderungan perilaku aseksual terhadap seks meskipun aseksual sendiri tidak memiliki ketertarikan terhadap seks dan hal tersebut berarti semua aseksual tidak melakukan seks sama sekali terutama di beberapa kasus aseksual yang memiliki partner seksual bersedia  melakukan seks dengan partnernya untuk menjaga hubungan mereka tetap sehat (AVEN, 2001). Pengelompokkan respon atau perilaku aseksual terhadap seks diantaranya ialah:

  1. Sex-Favorable yakni kemauan positif untuk berkompromi dengan partner seksual mereka dalam menemukan cara untuk menikmati aktivitas seksual baik secara fisik maupun emosional, mereka merasa senang memberi kesenangan seksual dibandingkan memberi terutama kepada partner mereka yang seksual,
  2. Sex-Indiffirent yakni aseksual yang masih memungkinkan untuk berkompromi pada hal-hal dasar, dan tidak menikmati seks baik secara fisik maupun emosional namun tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut meskipun mereka bisa memberikan kesenangan seksual namun tidak merasa itu sebagai suatu hal yang mereka nikmati ataupun dianggap sebagai hal yang intimate,
  3. Sex-Averse/Sex-Repulsed, aseksual yang merasa terganggu dan tidak nyaman bahkan dalam pikiran melakukan seks serta tidak bersedia berkompromi melakukan seks (meski hal tersebut bergantung pada reaksi subjektif dari masing-masing aseksual) (AVEN, 2001).

Berdasarkan hasil pengamatan penulis di berbagai komunitas aseksual terutama di Reddit kecenderungan sex-repulsed lah yang paling banyak ada dan hal tersebut menyebabkan aseksual dengan kecenderungan sex-favorable merasa tidak diperhatikan di komunitas aseksual dikarenakan dianggap kurang dapat merepresentasikan aseksual meski pada kenyataannya hal tersebut sangatlah tidak benar dan tidak ada ukuran atas level ke seksualan setiap aseksual dan apa yang mereka semua alami dan rasakan itu valid. Setiap aseksual merupakan pribadi yang unik dan memiliki pengalaman yang berbeda terhadap identitas aseksualnya satu dengan yang lain. Beberapa dari mereka ada yang tidak berkeberatan melakukan kontak fisik seperti halnya berpelukan, berciuman sedangkan beberapa diantaranya menolak kontak fisik dan hanya mengandalkan ikatan ataupun koneksi yang terbangun diantaranya terutama bagi aseksual yang ingin menjalin hubungan dengan orang lain. Identitas aseksual sendiri tidak menghalangi mereka untuk dapat menemukan partner baik itu partner sesama aseksual maupun partner seksual yang memang ingin menerima aseksual sebagai partner mereka. Beberapa aseksual justru cukup aktif mencari partner hidup di berbagai media sosial seperti halnya di Reddit pada subreddit r/asexualdating dan berbagai subreddit lainnya. Reddit sendiri merupakan salah satu media sosial yang paling banyak digunakan aseksual untuk berdiskusi dan berkumpul atau bahkan mencari partner ataupun teman sesama aseksual dibandingkan dengan sosial media lainnya atau bahkan website dari komunitas aseksual yakni AVEN (Asexual Visibility and Education Network).

Berbagai hal yang seringkali dianggap menjadi permasalahan oleh aseksual ialah sulitnya mereka diterima dan valid oleh banyak orang dikarenakan aseksual sendiri seringkali dianggap sebagai perasaan yang tidak valid karena berlawanan dengan standar, agama ataupun budaya yang berlaku di masyarakat sehingga banyak aseksual yang melawan rasa ketidaktertarikan mereka terhadap seks sebagai aseksual agar dapat diterima di masyarakat salah satunya ialah dengan melakukan seks. Meski beberapa agama dapat menerima aseksual dengan baik namun begitu aseksual sendiri tidak disebabkan dikarenakan ajaran agama ataupun pilihan pribadi namun dikarenakan aseksual sendiri merupakan orientasi seksual yang memiliki definisi berbeda dengan ideologi ataupun pilihan yang berdasarkan agama ataupun keputusan pribadi. Berdasarkan jumlahnya aseksual merupakan minoritas di dunia ini, ada sekitar 1,7% orang dewasa yang teridentifikasi sebagai aseksual berdasarkan studi yang dilakukan oleh William Institute di Amerika yang kebanyakan merupakan perempuan, non-binary, perempuan sejak lahir (Dowd, 2019). Penelitian lain dari Anthony Bogaert pada tahun 2004 mengatakan bahwasanya 1% dari jumlah populasi orang dewasa di Inggris merupakan aseksual (CNN, 2004). Banyak pula yang beranggapan bahwasanya jumlah aseksual telah bertambah terlepas dari kurangnya edukasi ataupun pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat terkait dengan aseksualitas. Aseksual juga berada dalam naungan dari komunitas LGBT dan disertakan pada penggunaan istilah LGBTQA+ sehingga dapat dikatakan bahwasanya aseksual merupakan minoritas dalam minoritas, ditambah dengan kekompleksan dari orientasi seksual aseksual dengan berbagai macam tipe dan kecenderungan perilaku serta pengalaman setiap masing-masing aseksual menjadikan masyarakat banyak tidak memahami dengan baik aseksualitas terutama dikarenakan topik aseksual juga masih sangat jarang dibahas dan diketahui oleh masyarakat luas dibandingkan dengan komunitas lainnya yang berada di payung LGBT.

Beberapa permasalahan yang dihadapi aseksual diantaranya ialah kesulitan dalam menemukan pasangan hidup, menunjukkan jati diri atau bahkan diterima oleh orang terdekat dan masyarakat sekitar. Kurangnya representasi aseksual juga merupakan salah satu hal yang menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat akan keberadaan dari aseksual. Di Indonesia sendiri belum ada komunitas aseksual ditambah dengan minimnya pengetahuan masyarakat seputar hal tersebut. Beberapa orang justru membuat lelucon terkait aseksual disertai dengan tindakan tidak memvalidasi aseksual yang seringkali menyakitkan hati dan membuat aseksual merasa tidak diterima dengan baik seperti halnya menganggap aseksual sebagai orang yang takut untuk melakukan seks, mereka yang belum menemukan orang yang cocok, mereka yang memiliki gangguan seksual, dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat disayangkan dikarenakan orientasi seksual bukanlah pilihan dan menjadi aseksual bukan sesuatu hal yang mudah terutama beberapa orang biasanya perlu waktu untuk benar-benar memastikan dirinya sebagai aseksual meskipun pada beberapa kasus seseorang dapat lebih mengenali diri mereka dengan baik ataupun aseksualitas mereka dengan seiring waktu.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa aseksual merupakan bagian LGBT namun begitu aseksual seringkali tidak dianggap sebagai orientasi seksual yang valid bahkan dalam kelompok LGBT sendiri, berdasarkan beberapa pengamatan dari penulis yang dikumpulkan dari berbagai sumber seperti komunitas aseksual di Reddit, video mengenai aseksual di YouTube dan pengalaman teman sesama aseksual yang penulis miliki mengaku beberapa dari aseksual merasa kurang nyaman berkumpul pada acara-acara LGBT yang digelar baik itu hanya sekedar perkumpulan biasa maupun acara pride yang diadakan pada bulan tertentu setiap tahunnya sebagai salah satu cara untuk menyuarakan hak-hak LGBT dan mengekspresikan diri tidak terkecuali di Indonesia. LGBT sendiri merupakan komunitas yang seringkali mendapatkan peminggiran di masyarakat terutama di Indonesia, dan komunitas aseksualitas sendiri malangnya menghadapi peminggiran bahkan di dalam kelompok yang sudah seharusnya menerima dan memberikan ruang kepada aseksual untuk memperjuangkan hak bersama setidaknya untuk diakui dan dianggap valid tanpa harus memenuhi standar masyarakat terkait seks terhadap kondisi personal seseorang yang tidak memiliki keinginan untuk melakukan seks. Beberapa beranggapan bahwasanya tidak semua anggota LGBT bersikap demikian namun begitu tetap ditemukan kejadian ataupun kondisi dimana aseksual merasa sangat terpinggirkan maupun tidak nyaman ketika berkumpul dan melakukan kegiatan pride bersama orientasi seksual lainnya di  komunitas LGBT dikarenakan maraknya penggunaan hal-hal yang berbau seks atau lekat dengan seks yang membuat aseksual merasa kurang nyaman.

Tidak hanya pengeksekusian di komunitas LGBT, aseksual juga dapat tereksklusi di komunitas aseksual itu sendiri, hal ini berlaku terhadap kecenderungan perilaku aseksual terhadap seks yakni kelompok aseksual yang masih merasa tidak masalah melakukan seks yakni sex-favorable seperti yang telah diterangkan sebelumnya, sedangkan kebanyakan aseksual yang penulis amati di berbagai komunitas ialah aseksual yang menolak seks dan tidak nyaman dengan berbagai konten yang mengandung seksual konten di dalamnya sehingga komunitas aseksual seringkali membawa pembahasan yang lebih cocok dibahas oleh aseksual dengan kecenderungan sex-repulsed dibandingkan dengan  sex-favorable ataupun sex-indefferent. Hal tersebut perlu untuk dijelaskan kembali dalam komunitas aseksual guna menciptakan ruang yang inklusif di dalam komunitas terutama bagi komunitas aseksual sendiri yang pada kenyataannya telah banyak mendapatkan berbagai macam ketidaknyaman sebagai aseksual terutama di beberapa situasi dan pada dasarnya juga bergantung lingkungan mereka sendiri.

Hal ini memberikan kesimpulan bahwasanya ada banyak sekali yang perlu untuk diluruskan bersama tidak hanya di luar komunitas aseksual ataupun LGBT saja melainkan juga di dalam kelompok LGBT dan aseksual itu sendiri sehingga tidak menimbulkan pengucilan pada kelompok aseksual tertentu yang pada akhirnya menyebabkan adanya ketidaknyamanan pada kelompok yang sudah sepatutnya memberikan kenyamanan bagi mereka untuk mengekspresikan dan menjadi dirinya sendiri dikarenakan menjadi aseksual bukanlah suatu hal yang mudah. Terlepas dari permasalahan tersebut permasalahan lain yang dihadapi oleh aseksual ialah terpinggirnya mereka di dunia yang terseksualisasi ini. Banyak orang seakan tidak dapat membayangkan hidup sebagai seorang aseksual,  beberapa aseksual mengaku bahwasanya identitasnya sebagai aseksual justru lebih sulit diterima oleh masyarakat dibandingkan gay, lesbian maupun transgender. Anggapan suci dan jauh dari seks dari identitas sebagai aseksual tidak sepenuhnya bisa memberikan keuntungan ataupun kemudahan bagi aseksual di dunia dan di masyarakat yang terseksualiasi.

Beberapa anggapan yang seringkali diterima oleh aseksual ialah penyangkalan atas orientasi seksual mereka yang berujung dengan tidak tervalidasinya apa yang mereka rasakan. Coming out kepada orang terdekat seperti orang tua, keluarga atau teman seringkali memberikan ketakutan terhadap aseksual dikarenakan banyaknya pengalaman aseksual yang bahkan tidak diterima oleh keluarganya dikarenakan mereka dianggap tidak normal dan tidak sesuai dengan standar yang ada seperti halnya menikah dan memiliki anak meskipun hal tersebut juga dapat dilakukan oleh seorang aseksual. Bahkan pada beberapa kasus aseksual justru lebih tidak diterima dibandingkan dengan gay, lesbian oleh keluarga mereka atau bahkan masyarakat sekitar. Hal ini menandakan bahwasanya seks yang dianggap sebagai salah satu hal natural dan kodrat manusia bukan menjadi suatu hal yang perlu untuk dipertanyakan kembali sehingga tidak mengherankan apabila masyarakat menganggap aseksual sebagai orientasi seksual yang tidak valid dan selalu mempertanyakan kevalidan dari orientasi seksual mereka. Masyarakat seakan tidak dapat membayangkan hidup seseorang tanpa melakukan seks, sehingga mereka kurang dapat menerima aseksual dengan baik. Tentunya tidak semua orang berpikiran begitu, beberapa orang menganggap bahwasanya aseksual merupakan orientasi seksual yang suci dan lebih bisa diterima oleh masyarakat dibandingkan gay, lesbian dan lain sebagainya terutama di dalam agama atau budaya masyarakat namun begitu bukan berarti aseksual lepas dari tekanan dan eksklusi nyatanya masyarakat masih banyak yang belum mengetahui aseksual atau memahaminya dengan baik sehingga banyak kesalahpahaman terhadap aseksual seperti halnya anggapan bahwasanya aseksual merupakan pilihan hidup, atau didasarkan atas alasan agama, ataupun kurangnya edukasi seks hingga disebabkan oleh gangguan kesehatan,  padahal hal tersebut tidaklah benar dikarenakan orientasi seksual bukanlah pilihan dan nyatanya pula banyak dari aseksual yang sejak dari kecil sudah merasa tidak memiliki ketertarikan terhadap seks. Pada dasarnya  aseksual sesuai dengan definisinya ialah seseorang yang tidak merasakan atau sedikit memiliki ketertarikan seksual.

Selain permasalahan kurang diterimanya aseksual di komunitas LGBT ataupun masyarakat luas membuat aseksual perlu untuk dapat mendapatkan dukungan dari sesama aseksual. Di Indonesia sendiri belum ada komunitas aseksual dan masyarakat masih sangat awam dengan aseksual sebagai salah satu orientasi seksual yang valid sehingga berpotensi menimbulkan peminggiran. Minimnya edukasi dan informasi serta representasi dari aseksual menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peminggiran dari aseksual itu sendiri. Rasa dipinggirkan dari keluarga ataupun masyarakat sekitar memberikan rasa tidak nyaman dan pengeksekusian diri sebagai aseksual. Permasalahan besar lainnya yang dihadapi oleh aseksual ialah kurangnya rasa nyaman dari aseksual di dunia yang terseksualisasi, dimana bahasan seks baik di internet, media sosial ataupun kehidupan sehari-hari menjadi bahasan yang seringkali diperbincangkan tidak terkecuali di kalangan anak muda. Permasalahan tersebut mungkin akan terasa terutama pada usia dewasa dimana membicarakan topik seputar asmara dan seks menjadi hal yang cukup diperbincangkan, dalam pembicaraan dan kondisi yang demikianlah aseksual seringkali merasa tereksklusi ataupun tidak nyaman. Menjadi aseksual tentunya tidak mudah terutama keberadaan mereka yang seringkali kasat mata dengna jumlah komunitas yang minim serta hidup di dunia yang terseksualisasi pada akhirnya memberikan tekanan kepada aseksual untuk menjadi normal dalam standar masyarakat dalam hal ini ialah melakukan seks. Hidup tanpa seks cukup banyak membingungkan banyak orang dan dianggap sebagai cara hidup yang benar-benar mengenaskan, tanpa mereka ketahui benar apa itu aseksual baik itu dari mendengar ataupun belajar terkait aseksualitas dari aseksual ataupun sumber-sumber yang dapat dipercaya.

Kemungkinan aseksual untuk tidak menikah ataupun memiliki pasangan atau bahkan anak juga cukup tinggi meski melakukan hal-hal tersebut bukanlah suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh aseksual dikarenakan tidak sedikit pula aseksual yang memiliki partner, menikah  atau bahkan memiliki anak. Mereka mungkin memiliki kesempatan yang minim dalam menemukan partner atau teman hidup namun begitu mereka juga masih memiliki kesempatan apabila mereka ingin mencoba untuk menemukan pasangan yang mau menerima aseksualitas mereka atau bahkan sesama aseksual berdasarkan kecocokan ataupun kriteria mereka. Beberapa aseksual juga tidak berkeberatan untuk hidup sendiri atau bahkan memiliki hubungan platonik dengan orang lain untuk menemani mereka. Aromantik aseksual yang diketahui tidak memiliki ketertarikan seksual maupun romantik dengan orang lain juga dapat memiliki partner hidup dengan cara membina hubungan berdasarkan kedekatan emosional yang terbangun meski tanpa adanya ketertarikan secara romantik ataupun seksual dengan partner ataupun pasangan mereka. Pada kesimpulannya memang setiap aseksual unik dan pengalaman ataupun harapan serta ekspektasi kehidupan mereka dapat berbeda satu dengan yang lain.

Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kita semua untuk setidaknya dapat menghilangkan miskonsepsi yang dapat menimbulkan eksklusi terhadap aseksual ialah dengan mengedukasi diri sendiri terkait isu aseksual terutama dikarenakan isu-isu orientasi seksual khususnya aseksual sangat minim untuk dibahas di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, selanjutnya ialah memvalidasi perasaan dan orientasi seksual mereka tanpa memberikan penghakiman ataupun prasangka dan tuduhan-tuduhan terhadap mereka pada sesuatu yang sama sekali tidak kita ketahui sama sekali atau kita ketahui dengan baik sehingga harapannya semua orang dapat mengetahui bahwasanya aseksual itu ada dan mungkin saja akan lebih banyak orang yang menyadari diri mereka aseksual setelah sebelumnya memaksa diri untuk berusaha mengikuti standar masyarakat yang ada. Selain itu juga diharapkan komunitas LGBT dan aseksual sendiri semakin inklusif terhadap aseksual dan berbagai orientasi aseksual lainnya dikarenakan mereka semua valid dan menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang kebanyakan dan merasa tereksklusi bukanlah kehidupan yang menyenangkan sama sekali.

Peminggiran aseksual juga tidak terlepas dari adanya aphobia yakni kebencian terhadap aseksual yang bisa datang dari mana saja termasuk dari anggota di LGBT, orang terdekat aseksual atau bahkan masyarakat biasa dengan tidak memvalidasi perasaan aseksual serta membuat berbagai klaim bahwasanya aseksual merupakan hal yang dibuat-buat, merupakan permasalahan kesehatan dan lain sebagainya. Aphobia justru dapat membuat aseksual merasa takut untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya dan merasa tereksklusi dan menyalahkan diri terutama apabila mereka merasa aseksualitas mereka merupakan suatu lelucon dan bukan suatu hal yang valid. Menjelaskan ke orang lain terkait aseksualitas dari aseksual bukanlah hal yang mudah terutama hal tersebut membutuhkan keberanian yang cukup serta informasi yang baik agar tidak menimbulkan miskonsepsi di masyarakat. Penulis dapat katakan bahwasanya aseksual merupakan orientasi seksual yang cukup rumit dan perlu adanya edukasi dan informasi yang benar diluar sana agar tidak menimbulkan prasangka ataupun miskonsepsi yang pada akhirnya justru membuat aseksual merasa terpinggirkan dan tidak mendapatkan hak-haknya untuk dapat menjadi diri mereka sendiri dan merasa nyaman di dunia dan masyarakat yang terseksualisasi ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

AVEN. (2001). An asexual person is a person who does not experience sexual attraction. Retrieved Juni 11, 2021, from www.asexuality.org: https://www.asexuality.org/?q=overview.html

CNN. (2004, Oktober 14). www.cnn.com. Retrieved Juni 11, 2021, from Study: One in 100 adults asexual : https://www.cnn.com/2004/TECH/science/10/14/asexual.study/

Dowd, R. (2019, Agustus 8). 1.7% of sexual minority adults identify as asexual. Retrieved Juni 11, 2021, from williaminstitute.law.ucla.edu: https://williaminstitute.law.ucla.edu/press/sm-asexuals-press-release/

Ferguson, S. (2019, September 18). What Does It Mean to Be Asexual . Retrieved Juni 11, 2021, from www.healthline.com: https://www.healthline.com/health/what-is-asexual#no-sexual-attraction

wikia.org. (2020). Aegosexual. Retrieved Juni 11, 2021, from lgbta.wikia.org: https://www.asexuality.org/?q=overview.html

 

 

 

 

Komentar