Eksklusi Sosial Terhadap Aseksual di Dunia Yang Terseksualisasi
Nama :
Eka Yunita Herawati
NIM :
185120107111006
Kelas : A-6 Sosiologi
Eksklusi
Sosial Terhadap Aseksual di Dunia Yang Terseksualisasi
Aseksual merupakan salah satu orientasi seksual yang mungkin
paling banyak belum diketahui oleh masyarakat luas dibandingkan orientasi
seksual lainnya seperti gay, lesbian, dan lain sebagainya. Aseksual merupakan
istilah yang digunakan terhadap mereka yang merasakan sedikit atau bahkan tidak
sama sekali ketertarikan seksual, ketertarikan
seksual dalam hal ini ialah ketertarikan pada orang secara spesifik dan merasa tertarik untuk
melakukan seks dengan mereka dan aseksual bukan disebabkan oleh gangguan kesehatan,
trauma, atau bahkan faktor-faktor lainnya seperti halnya merasa tidak punya
harapan dalam berkencan, kurang menarik secara fisik dan lain sebagainya
(Ferguson, 2019). Meski beberapa aseksual merasa bahwasanya latar belakang
seseorang menjadi aseksual merupakan hal yang tidak penting selama mereka tidak
merasakan ketertarikan seksual dan aseksual bukan pilihan yang mereka buat
sendiri maka apa yang mereka rasakan itu valid dan mereka bebas untuk
menggunakan label aseksual. Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan ruang yang inklusif bagi
aseksual dan wujud validasi dari perasaan mereka. Beberapa beranggapan
bahwasanya aseksual memanglah orang yang tidak merasakan ketertarikan seksual
bahkan sejak mereka lahir dan memilih untuk tidak melakukan seks dikarenakan
kesadaran tersebut, namun tidak berarti semua aseksual tidak pernah melakukan
hubungan seks sebelumnya dikarenakan ada beberapa kasus ataupun pengalaman
aseksual dimana sebelumnya mereka sudah pernah melakukan seks atau bahkan
memiliki anak baru setelahnya menyadari aseksualitas mereka.
Menjadi aseksual tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan
partner dikarenakan banyak diantara aseksual yang masih memiliki ketertarikan
secara romantik dengan orang lain,
memiliki partner serta membina hubungan tanpa adanya ketertarikan
seksual dengan mencari partner yang sesuai dengan tipe aseksual yang mereka
miliki. Beberapa tipe aseksual diantaranya ialah demiromantik, aromantik,
aegoseksual, gray-aseksual. Demiromantik aseksual yakni asekual yang merasakan
ketertarikan secara romantik ataupun seksual (pada beberapa aseksual) setelah
mendapatkan ikatan emosional dengan orang lain, selain itu adapun
aseksual aromantik yakni aseksual yang tidak merasakan ketertarikan seksual
ataupun romantik dengan semua gender, sedangkan aseksual romantik yakni
aseksual yang masih merasakan ketertarikan romantik dengan orang lain tanpa
ketertarikan seksual, gray-aseksual ialah aseksual yang berada ditengah-tengah
dan merasa masih belum yakin apakah mereka merasa mengalami ketertarikan
seksual maupun tidak (AVEN, 2001). Selain itu juga ada aegoseksual yakni
aseksual yang menikmati seksual fantasi, menonton porno, dan konten seksual
ataupun masturbasi tetapi merasa sedikit hingga tidak memiliki ketertarikan
untuk melakukan seks kepada orang lain di kehidupan nyata (wikia.org, 2020).
Selain itu juga ketertarikan aseksual terbagi menjadi ketertarikan
secara romantik dan ketertarikan estetik yakni ketertarikan atas penampilan.
Orientasi romantik pada aseksual dapat berupa heteroromantik (menyukai lawan
jenis), homoromantik (menyukai sesama jenis), biromantik (dapat menyukai dua
jenis gender laki-laki maupun perempuan), panromantik (menyukai semua jenis
gender), aromantik (tidak memiliki ketertarikan romantik dengan semua orang
atau semua gender), romantik (memiliki ketertarikan secara romantis terhadap orang lain).
Pengelompokkan lainnya ialah respon ataupun kecenderungan perilaku aseksual terhadap seks meskipun aseksual sendiri
tidak memiliki ketertarikan terhadap seks dan hal tersebut berarti semua
aseksual tidak melakukan seks sama sekali terutama di beberapa kasus aseksual
yang memiliki partner seksual bersedia
melakukan seks dengan partnernya untuk menjaga hubungan mereka tetap
sehat (AVEN, 2001). Pengelompokkan respon atau perilaku aseksual terhadap seks
diantaranya ialah:
- Sex-Favorable yakni kemauan
positif untuk berkompromi dengan partner seksual mereka dalam menemukan
cara untuk menikmati aktivitas seksual baik secara fisik maupun
emosional, mereka merasa senang memberi kesenangan seksual dibandingkan
memberi terutama kepada partner mereka yang seksual,
- Sex-Indiffirent yakni aseksual
yang masih memungkinkan untuk berkompromi pada hal-hal dasar, dan tidak
menikmati seks baik secara fisik maupun emosional namun tidak terlalu
mempermasalahkan hal tersebut meskipun mereka bisa memberikan kesenangan
seksual namun tidak merasa itu sebagai suatu hal yang mereka nikmati
ataupun dianggap sebagai hal yang intimate,
- Sex-Averse/Sex-Repulsed, aseksual yang
merasa terganggu dan tidak nyaman bahkan dalam pikiran melakukan seks
serta tidak bersedia berkompromi melakukan seks (meski hal tersebut
bergantung pada reaksi subjektif dari masing-masing aseksual) (AVEN,
2001).
Berdasarkan hasil pengamatan penulis di berbagai komunitas
aseksual terutama di Reddit kecenderungan sex-repulsed lah
yang paling banyak ada dan hal tersebut menyebabkan aseksual dengan
kecenderungan sex-favorable merasa
tidak diperhatikan di komunitas aseksual dikarenakan dianggap kurang dapat
merepresentasikan aseksual meski pada kenyataannya hal tersebut sangatlah tidak
benar dan tidak ada ukuran atas level ke seksualan setiap aseksual dan apa yang mereka semua alami dan
rasakan itu valid. Setiap aseksual merupakan pribadi yang unik dan memiliki
pengalaman yang berbeda terhadap identitas aseksualnya satu dengan yang lain. Beberapa dari mereka ada yang tidak
berkeberatan melakukan kontak fisik seperti halnya berpelukan, berciuman
sedangkan beberapa diantaranya menolak kontak fisik dan hanya mengandalkan
ikatan ataupun koneksi yang terbangun diantaranya terutama bagi aseksual yang
ingin menjalin hubungan dengan orang lain. Identitas aseksual sendiri tidak
menghalangi mereka untuk dapat menemukan partner baik itu partner sesama
aseksual maupun partner seksual yang memang ingin menerima aseksual sebagai
partner mereka. Beberapa aseksual justru cukup aktif mencari partner hidup di
berbagai media sosial seperti halnya di Reddit pada subreddit r/asexualdating
dan berbagai subreddit lainnya. Reddit sendiri merupakan salah satu media
sosial yang paling banyak digunakan aseksual untuk berdiskusi dan berkumpul
atau bahkan mencari partner ataupun teman sesama aseksual dibandingkan dengan
sosial media lainnya atau bahkan website dari komunitas aseksual yakni AVEN
(Asexual Visibility and Education Network).
Berbagai hal yang seringkali dianggap menjadi permasalahan oleh
aseksual ialah sulitnya mereka diterima dan valid oleh banyak orang dikarenakan
aseksual
sendiri seringkali dianggap sebagai perasaan yang tidak valid karena berlawanan
dengan standar, agama ataupun budaya yang berlaku di masyarakat sehingga banyak
aseksual yang melawan rasa ketidaktertarikan mereka terhadap seks sebagai
aseksual agar dapat diterima di masyarakat salah satunya ialah dengan melakukan
seks. Meski beberapa agama dapat menerima aseksual dengan baik namun begitu
aseksual sendiri tidak disebabkan dikarenakan ajaran agama ataupun pilihan
pribadi namun dikarenakan aseksual sendiri merupakan orientasi seksual yang
memiliki definisi berbeda dengan ideologi ataupun pilihan yang berdasarkan
agama ataupun keputusan pribadi. Berdasarkan jumlahnya aseksual merupakan
minoritas di dunia ini, ada sekitar 1,7% orang dewasa yang teridentifikasi
sebagai aseksual berdasarkan studi yang dilakukan oleh William Institute di Amerika yang kebanyakan merupakan perempuan,
non-binary, perempuan sejak lahir (Dowd, 2019). Penelitian lain dari Anthony Bogaert pada tahun 2004 mengatakan bahwasanya 1% dari
jumlah populasi orang dewasa di Inggris merupakan aseksual (CNN, 2004). Banyak
pula yang beranggapan bahwasanya jumlah aseksual telah bertambah terlepas dari
kurangnya edukasi ataupun pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat terkait dengan
aseksualitas. Aseksual juga berada dalam naungan dari komunitas LGBT dan
disertakan pada penggunaan istilah LGBTQA+ sehingga dapat dikatakan bahwasanya
aseksual merupakan minoritas dalam minoritas, ditambah dengan kekompleksan dari
orientasi seksual aseksual dengan berbagai macam tipe dan kecenderungan
perilaku serta pengalaman setiap masing-masing aseksual menjadikan masyarakat
banyak tidak memahami dengan baik aseksualitas terutama dikarenakan topik
aseksual juga masih sangat jarang dibahas dan diketahui oleh masyarakat luas
dibandingkan dengan komunitas lainnya yang berada di payung LGBT.
Beberapa permasalahan yang dihadapi aseksual diantaranya ialah
kesulitan dalam menemukan pasangan hidup, menunjukkan jati diri atau bahkan
diterima oleh orang terdekat dan masyarakat sekitar. Kurangnya representasi
aseksual juga merupakan salah satu hal yang menyebabkan kurangnya pengetahuan
masyarakat akan keberadaan dari aseksual. Di Indonesia sendiri belum ada
komunitas aseksual ditambah dengan minimnya pengetahuan masyarakat seputar hal
tersebut. Beberapa orang justru membuat lelucon terkait aseksual disertai
dengan tindakan tidak memvalidasi aseksual yang seringkali menyakitkan hati dan
membuat aseksual merasa tidak diterima dengan baik seperti halnya menganggap
aseksual sebagai orang yang takut untuk melakukan seks, mereka yang belum
menemukan orang yang cocok, mereka yang memiliki gangguan seksual, dan lain
sebagainya. Hal tersebut sangat disayangkan dikarenakan orientasi seksual
bukanlah pilihan dan menjadi aseksual bukan sesuatu hal yang mudah terutama
beberapa orang biasanya perlu waktu untuk benar-benar memastikan dirinya
sebagai aseksual meskipun pada beberapa kasus seseorang dapat lebih mengenali
diri mereka dengan baik ataupun aseksualitas mereka dengan seiring waktu.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa aseksual merupakan
bagian LGBT namun begitu aseksual seringkali tidak dianggap sebagai orientasi
seksual yang valid bahkan dalam kelompok LGBT sendiri, berdasarkan beberapa
pengamatan dari penulis yang dikumpulkan dari berbagai sumber seperti komunitas
aseksual di Reddit, video mengenai aseksual di YouTube dan pengalaman teman
sesama aseksual yang penulis miliki mengaku beberapa dari aseksual merasa
kurang nyaman berkumpul pada acara-acara LGBT yang digelar baik itu hanya
sekedar perkumpulan biasa maupun acara pride yang diadakan pada bulan tertentu
setiap tahunnya sebagai salah satu cara untuk menyuarakan hak-hak LGBT dan mengekspresikan diri tidak terkecuali di Indonesia. LGBT sendiri merupakan
komunitas yang seringkali mendapatkan peminggiran di masyarakat terutama di
Indonesia, dan komunitas aseksualitas sendiri malangnya menghadapi peminggiran
bahkan di dalam kelompok yang sudah seharusnya menerima dan memberikan ruang
kepada aseksual untuk memperjuangkan hak bersama setidaknya untuk diakui dan
dianggap valid tanpa harus memenuhi standar masyarakat terkait seks terhadap
kondisi personal seseorang yang tidak memiliki keinginan untuk melakukan seks.
Beberapa beranggapan bahwasanya tidak semua anggota LGBT bersikap demikian
namun begitu tetap ditemukan kejadian ataupun kondisi dimana aseksual merasa
sangat terpinggirkan maupun tidak nyaman ketika berkumpul dan melakukan
kegiatan pride bersama orientasi seksual lainnya di komunitas LGBT dikarenakan maraknya penggunaan
hal-hal yang berbau seks atau lekat dengan seks yang membuat aseksual merasa
kurang nyaman.
Tidak hanya pengeksekusian di komunitas LGBT, aseksual juga dapat tereksklusi di komunitas aseksual itu sendiri, hal ini berlaku
terhadap kecenderungan perilaku aseksual terhadap seks yakni kelompok aseksual
yang masih merasa tidak masalah melakukan seks yakni sex-favorable seperti yang telah diterangkan sebelumnya, sedangkan
kebanyakan aseksual yang penulis amati di berbagai komunitas ialah aseksual
yang menolak seks dan tidak nyaman dengan berbagai konten yang mengandung
seksual konten di dalamnya sehingga komunitas aseksual seringkali membawa
pembahasan yang lebih cocok dibahas oleh aseksual dengan kecenderungan sex-repulsed dibandingkan dengan sex-favorable
ataupun sex-indefferent. Hal tersebut
perlu untuk dijelaskan kembali dalam komunitas aseksual guna menciptakan ruang
yang inklusif di dalam komunitas terutama bagi komunitas aseksual sendiri yang
pada kenyataannya telah banyak mendapatkan berbagai macam ketidaknyaman sebagai
aseksual terutama di beberapa situasi dan pada dasarnya juga bergantung
lingkungan mereka sendiri.
Hal ini memberikan kesimpulan bahwasanya ada banyak sekali yang
perlu untuk diluruskan bersama tidak hanya di luar komunitas aseksual ataupun
LGBT saja melainkan juga di dalam kelompok LGBT dan aseksual itu sendiri
sehingga tidak menimbulkan pengucilan pada
kelompok aseksual tertentu yang pada akhirnya menyebabkan adanya
ketidaknyamanan pada kelompok yang sudah sepatutnya memberikan kenyamanan bagi
mereka untuk mengekspresikan dan menjadi
dirinya sendiri dikarenakan menjadi aseksual bukanlah suatu hal yang mudah.
Terlepas dari permasalahan tersebut permasalahan lain yang dihadapi oleh
aseksual ialah terpinggirnya mereka di dunia yang terseksualisasi ini. Banyak
orang seakan tidak dapat membayangkan hidup sebagai seorang aseksual, beberapa aseksual mengaku bahwasanya
identitasnya sebagai aseksual justru lebih sulit diterima oleh masyarakat
dibandingkan gay, lesbian maupun transgender. Anggapan suci dan jauh dari seks
dari identitas sebagai aseksual tidak sepenuhnya bisa memberikan keuntungan
ataupun kemudahan bagi aseksual di dunia dan di masyarakat yang terseksualiasi.
Beberapa anggapan yang seringkali diterima
oleh aseksual ialah penyangkalan atas orientasi seksual mereka yang berujung
dengan tidak tervalidasinya apa yang mereka rasakan. Coming out kepada orang terdekat seperti orang tua, keluarga atau
teman seringkali memberikan ketakutan terhadap aseksual dikarenakan banyaknya
pengalaman aseksual yang bahkan tidak diterima oleh keluarganya dikarenakan
mereka dianggap tidak normal dan tidak sesuai dengan standar yang ada seperti
halnya menikah dan memiliki anak meskipun hal tersebut juga dapat dilakukan
oleh seorang aseksual. Bahkan pada beberapa kasus aseksual justru lebih tidak
diterima dibandingkan dengan gay, lesbian oleh keluarga mereka atau bahkan
masyarakat sekitar. Hal ini menandakan bahwasanya seks yang dianggap sebagai
salah satu hal natural dan kodrat manusia bukan menjadi suatu hal yang perlu
untuk dipertanyakan kembali sehingga tidak mengherankan apabila masyarakat
menganggap aseksual sebagai orientasi seksual yang tidak valid dan selalu
mempertanyakan kevalidan dari orientasi seksual mereka. Masyarakat seakan tidak
dapat membayangkan hidup seseorang tanpa melakukan seks, sehingga mereka kurang
dapat menerima aseksual dengan baik. Tentunya tidak semua orang berpikiran
begitu, beberapa orang menganggap bahwasanya aseksual merupakan orientasi
seksual yang suci dan lebih bisa diterima oleh masyarakat dibandingkan gay,
lesbian dan lain sebagainya terutama di dalam agama atau budaya masyarakat namun
begitu bukan berarti aseksual lepas dari tekanan dan eksklusi nyatanya
masyarakat masih banyak yang belum mengetahui aseksual atau memahaminya dengan
baik sehingga banyak kesalahpahaman terhadap aseksual seperti halnya anggapan
bahwasanya aseksual merupakan pilihan hidup, atau didasarkan atas alasan agama,
ataupun kurangnya edukasi seks hingga disebabkan oleh gangguan kesehatan, padahal hal tersebut tidaklah benar
dikarenakan orientasi seksual bukanlah pilihan dan nyatanya pula banyak dari
aseksual yang sejak dari kecil sudah merasa tidak memiliki ketertarikan
terhadap seks. Pada dasarnya aseksual
sesuai dengan definisinya ialah seseorang yang tidak merasakan atau sedikit
memiliki ketertarikan seksual.
Selain permasalahan kurang diterimanya
aseksual di komunitas LGBT ataupun masyarakat luas membuat aseksual perlu untuk
dapat mendapatkan dukungan dari sesama aseksual. Di Indonesia sendiri belum ada
komunitas aseksual dan masyarakat masih sangat awam dengan aseksual sebagai
salah satu orientasi seksual yang valid sehingga berpotensi menimbulkan
peminggiran. Minimnya edukasi dan informasi serta representasi dari aseksual
menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peminggiran dari aseksual itu
sendiri. Rasa dipinggirkan dari keluarga ataupun masyarakat sekitar memberikan
rasa tidak nyaman dan pengeksekusian diri sebagai aseksual. Permasalahan besar
lainnya yang dihadapi oleh aseksual ialah kurangnya rasa nyaman dari aseksual
di dunia yang terseksualisasi, dimana bahasan seks baik di internet, media
sosial ataupun kehidupan sehari-hari menjadi bahasan yang seringkali
diperbincangkan tidak terkecuali di kalangan anak muda. Permasalahan tersebut
mungkin akan terasa terutama pada usia dewasa dimana membicarakan topik seputar
asmara dan seks menjadi hal yang cukup diperbincangkan, dalam pembicaraan dan
kondisi yang demikianlah aseksual seringkali merasa tereksklusi ataupun tidak
nyaman. Menjadi aseksual tentunya tidak mudah terutama keberadaan mereka yang
seringkali kasat mata dengna jumlah komunitas yang minim serta hidup di dunia
yang terseksualisasi pada akhirnya memberikan tekanan kepada aseksual untuk
menjadi normal dalam standar masyarakat dalam hal ini ialah melakukan seks.
Hidup tanpa seks cukup banyak membingungkan banyak orang dan dianggap sebagai
cara hidup yang benar-benar mengenaskan, tanpa mereka ketahui benar apa itu
aseksual baik itu dari mendengar ataupun belajar terkait aseksualitas dari
aseksual ataupun sumber-sumber yang dapat dipercaya.
Kemungkinan aseksual untuk tidak menikah
ataupun memiliki pasangan atau bahkan anak juga cukup tinggi meski melakukan
hal-hal tersebut bukanlah suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh aseksual
dikarenakan tidak sedikit pula aseksual yang memiliki partner, menikah atau bahkan memiliki anak. Mereka mungkin
memiliki kesempatan yang minim dalam menemukan partner atau teman hidup namun
begitu mereka juga masih memiliki kesempatan apabila mereka ingin mencoba untuk
menemukan pasangan yang mau menerima aseksualitas mereka atau bahkan sesama
aseksual berdasarkan kecocokan ataupun kriteria mereka. Beberapa aseksual juga
tidak berkeberatan untuk hidup sendiri atau bahkan memiliki hubungan platonik
dengan orang lain untuk menemani mereka. Aromantik aseksual yang diketahui
tidak memiliki ketertarikan seksual maupun romantik dengan orang lain juga
dapat memiliki partner hidup dengan cara membina hubungan berdasarkan kedekatan
emosional yang terbangun meski tanpa adanya ketertarikan secara romantik
ataupun seksual dengan partner ataupun pasangan mereka. Pada kesimpulannya memang
setiap aseksual unik dan pengalaman ataupun harapan serta ekspektasi kehidupan
mereka dapat berbeda satu dengan yang lain.
Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kita
semua untuk setidaknya dapat menghilangkan miskonsepsi yang dapat menimbulkan
eksklusi terhadap aseksual ialah dengan mengedukasi diri sendiri terkait isu
aseksual terutama dikarenakan isu-isu orientasi seksual khususnya aseksual
sangat minim untuk dibahas di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia,
selanjutnya ialah memvalidasi perasaan dan orientasi seksual mereka tanpa
memberikan penghakiman ataupun prasangka dan tuduhan-tuduhan terhadap mereka
pada sesuatu yang sama sekali tidak kita ketahui sama sekali atau kita ketahui
dengan baik sehingga harapannya semua orang dapat mengetahui bahwasanya
aseksual itu ada dan mungkin saja akan lebih banyak orang yang menyadari diri
mereka aseksual setelah sebelumnya memaksa diri untuk berusaha mengikuti
standar masyarakat yang ada. Selain itu juga diharapkan komunitas LGBT dan
aseksual sendiri semakin inklusif terhadap aseksual dan berbagai orientasi
aseksual lainnya dikarenakan mereka semua valid dan menjalani kehidupan yang
berbeda dengan orang kebanyakan dan merasa tereksklusi bukanlah kehidupan yang
menyenangkan sama sekali.
Peminggiran aseksual juga tidak terlepas dari adanya aphobia
yakni kebencian terhadap aseksual yang bisa datang dari mana saja termasuk dari
anggota di LGBT, orang terdekat aseksual atau bahkan masyarakat biasa dengan
tidak memvalidasi perasaan aseksual serta membuat berbagai klaim bahwasanya
aseksual merupakan hal yang dibuat-buat, merupakan permasalahan kesehatan dan
lain sebagainya. Aphobia justru dapat membuat aseksual merasa takut untuk
menunjukkan dirinya yang sebenarnya dan merasa tereksklusi dan menyalahkan diri
terutama apabila mereka merasa aseksualitas mereka merupakan suatu lelucon dan
bukan suatu hal yang valid. Menjelaskan ke orang lain terkait aseksualitas dari
aseksual bukanlah hal yang mudah terutama hal tersebut membutuhkan keberanian
yang cukup serta informasi yang baik agar tidak menimbulkan miskonsepsi di
masyarakat. Penulis dapat katakan bahwasanya aseksual merupakan orientasi
seksual yang cukup rumit dan perlu adanya edukasi dan informasi yang benar
diluar sana agar tidak menimbulkan prasangka ataupun miskonsepsi yang pada
akhirnya justru membuat aseksual merasa terpinggirkan dan tidak mendapatkan
hak-haknya untuk dapat menjadi diri mereka sendiri dan merasa nyaman di dunia
dan masyarakat yang terseksualisasi ini.
DAFTAR PUSTAKA
AVEN. (2001). An asexual person is a person who does not
experience sexual attraction. Retrieved Juni 11, 2021, from
www.asexuality.org: https://www.asexuality.org/?q=overview.html
CNN. (2004, Oktober 14).
www.cnn.com. Retrieved Juni 11, 2021,
from Study: One in 100 adults asexual :
https://www.cnn.com/2004/TECH/science/10/14/asexual.study/
Dowd, R. (2019, Agustus
8). 1.7% of sexual minority adults
identify as asexual. Retrieved Juni 11, 2021, from williaminstitute.law.ucla.edu:
https://williaminstitute.law.ucla.edu/press/sm-asexuals-press-release/
Ferguson, S. (2019,
September 18). What Does It Mean to Be
Asexual . Retrieved Juni 11, 2021, from www.healthline.com:
https://www.healthline.com/health/what-is-asexual#no-sexual-attraction
wikia.org. (2020). Aegosexual. Retrieved Juni 11, 2021,
from lgbta.wikia.org: https://www.asexuality.org/?q=overview.html
Komentar
Posting Komentar